Jumat, 01 Februari 2013

Prosedur Menganalisis Tingkah Laku



PROSEDUR MENGANALISIS TINGKAH LAKU

A.      Pengertian Tingkah Laku
Dalam sebuah buku yang berjudul “Perilaku Manusia” Drs. Leonard F. Polhaupessy, Psi. menguraikan perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar, seperti orang berjalan, naik sepeda, dan mengendarai motor atau mobil. Untuk aktifitas ini mereka harus berbuat sesuatu, misalnya kaki yang satu harus diletakkan pada kaki yang lain. Jelas, ini sebuah bentuk perilaku. Cerita ini dari satu segi. Jika seseoang duduk diam dengan sebuah buku ditangannya, ia dikatakan sedang berperilaku.  Ia sedang membaca. Sekalipun pengamatan dari luar sangat minimal, sebenarnya perilaku ada dibalik tirai tubuh, didalam tubuh manusia.
Dalam buku lain diuraikan bahwa perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas masing-masing. Sehingga yang dimaksud perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas manusia dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar (Notoatmodjo 2003 hal  114). Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena itu, perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori skiner disebut teori “S - O - R” atau Stimulus – Organisme – Respon. Skiner membedakan adanya dua proses, antara lain ;
1.      Respondent respon atau reflexsive, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebut electing stimulation karena menimbulkan respon-respon yang relative tetap. Misalnya : makanan yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan, cahaya terang menyebabkan mata tertutup, dan sebagainya. Respondent respon ini juga mencakup perilaku emosinal misalnya mendengar berita musibah menjadi sedih atau menangis, lulus ujian meluapkan kegembiraannya ddengan mengadakan pesta, dan sebagainya.
2.      Operant respon atau instrumental respon, yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforce, karena memperkuat respon. Misalnya apabila seorang petugas kesehatan melaksanakan tugasnya dengan baik (respon terhadap uraian tugasnya atau job skripsi) kemudian memperoleh penghargaan dari atsannya (stimulus baru), maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam melaksanakan tugasnya
Berdasarkan dari pendapat para ahli tersebut diatas Perilaku atau tingkah laku menurut kami adalah suatu perbuatan/tindakan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya. Dengan bahasa latinnya tingkah laku bisa disebut juga dengan Behavior. Dan perilaku mempunyai beberapa dimensi, diantaranya adalah :
1.    Fisik (dapat diamati, digambarkan dan dicatat baik frekuensi, durasi dan intensitasnya) .
2.    Ruang  (suatu perilaku mempunyai dampak  kepada lingkungan (fisik maupun sosial) dimana perilaku itu  terjadi).
3.    Waktu (suatu perilaku mempunyai  kaitan dengan masa lampau maupun masa yang akan datang )

B.       Sifat-Sifat Perilaku
Perilaku diatur oleh prinsip dasar perilaku yang menjelaskan bahwa ada hubungan antara perilaku manusia dengan peristiwa lingkungan. Perubahan perilaku dapat diciptakan dengan merubah peristiwa didalam lingkungan yang menyebabkan perilaku tersebut dan dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua sifat,yaitu :
1.      Sifat Covert artinya perilaku yang tertutup atau tersembunyi (hanya dapat diamati oleh orang yang melakukannya).
2.      Sifat Overt artinya perilaku yang terbuka atau nampak dan sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice) atau dapat diamati dan dicatat.
Diatas telah dituliskan bahwa perilaku merupakan bentuk respon dari stimulus (rangsangan dari luar). Hal ini berarti meskipun bentuk stimulusnya sama namun bentuk respon akan berbeda dari setiap orang. Faktor factor yang membedakan respon terhadap stimulus disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi dua factor yaitu :
1.      Faktor internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat given atau bawaan misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.
2.      Faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, fisik, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering menjadi factor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang. (Notoatmodjo, 2007 hal 139)

C.       Proses Terjadinya Perilaku
Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :
1.      Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui setimulus (objek) terlebih dahulu
2.      Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus
3.      Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi
4.      Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru
5.      Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan atau bersifat langgeng (long lasting). Notoatmodjo, 2003 hal 122)

D.      Analisis Tentang Teori Behavioristik
Behavioristik atau Aliran Perilaku (juga disebut Perspektif Belajar) adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa semua yang dilakukan organisme (termasuk tindakan, pikiran, atau perasaandapat dan harus dianggap sebagai perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau konstrak hipotetis seperti pikiran. Behaviorisme beranggapan bahwa semua teori harus memiliki dasar yang bisa diamati tapi tidak ada perbedaan antara proses yang dapat diamati secara publik (seperti tindakan) dengan proses yang diamati secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan).
Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997).
Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.
Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.
Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.
Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pebelajar untuk berpikir dan berimajinasi.
Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:
·       Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara;
·       Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama;
·       Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons.

E.       Cara-cara Mempertahankan dan Mengurangi Perilaku yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan
1.         Cara Mempertahankan perilaku yang diharapkan :
a.      Melalui penguatan intrinsik. Caranya: sering melibatkan siswa pada kegiatan yang menyenangkan dan memberikan kepuasan dalam kaitannya dengan perilaku positif yang akan dipertahankan.
b.      Penguatan intermitten. Seperti disebutkan bahwa perilaku yang diharapkan frekuensinya akan meningkat dengan cepat apabila diberi penguat setiap kali perilaku tersebut muncul. Apabila munculnya perilaku tersebut sudah teratur, maka pemberian penguat dikurangi, yaitu pada kondisi tertentu saja.
2.         Cara mengurangi perilaku yang tidak diharapkan, antara lain :
a.      Extinction. Jangan memberikan penguat apapun terhadap perilaku yang tidak diharapkan.
b.      Cueing. Menggunakan bahasa isyarat seperti kontak mata, menaikkan alis mata, mendekati meja siswa dan berhenti di sana sampai perilaku yang tak diharapkan berhenti.
c.       Punishment. Ada pendapat bahwa hukuman tidak dapat menghentikan perilaku yang tidak diharapkan. Namun demikian kalau guru dapat menggunakan instrumen hukuman secara tepat maka hukuman tetap berguna.
Bentuk hukuman yang efektif :
1.      Mencela secara verbal singkat, saat itu juga, tanpa emosi, suara rendah, langsung mendekati siswa
2.      Memberi denda
3.      memberikan konsekuensi logis
4.      Time out, menempatkan siswa pada situasi yang membosankan
5.      Mengasingkan siswa ditempat tertentu sampai waktu yang ditentukan
Bentuk hukuman tidak efektif :
1.    Hukuman fisik
2.    Hukuman psikologis
3.    PR berlebihan
4.    Skorsing

F.        Langkah-langkah pendekatan behavioral
1.      menentukan masalah (perilaku yang tidak sesuai) - definisikan masalah
2.      menentukan tujuan konseling, untuk apa!
3.      mempertimbangkan alternatif-alternatif pemecahannya
4.      memilih satu altrernatif
5.      menentukan jadwal penguatan
6.      perjanjian dengan klien akan melakukan alternatif itu dengan sistem penguat
7.      pelaksanaan strategi/alternatif yang dipilih tadi
8.      evaluasi
9.      follow-up.
G.      Macam-macam pendekatan behavioral :
1.      Applied Behavior Analysis (ABA) (modifikasi perilaku, terapi perilaku, managemen kontingensi). Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa problem-problem perilaku berasal dari situasi lingkungan masa lalu dan sekarang
Prosedur
 :
a.       Jelaskan perilaku saat ini dan perilaku yang diharapkan secara jelas
b.      Kenali dan gunakan satu atau lebih penguat yang efektif
c.       Buat rencana perlakuan dengan menggunakan penguat untuk membentuk perilaku yang diharapkan
d.      Catat peningkatan frekuensi perilaku yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan
e.       Pantau efektivitas perlakuan dengan melihat perubahan perilaku dari waktu ke waktu, jika perlu lakukan modifikasi perlakuan
f.       Meminta siswa untuk mempraktekkan perilaku diharapkan yang sudah terbentuk ke berbagai situasi nyata
g.      Secara bertahap hentikan perlakuan dengan menggunakan penguatan intermitten.
2.      Functional Analysis & Positive Behavioral Support :
a.       Ajarkan perilaku yang diharapkan
b.      Secara konsisten perkuat perilaku yang diharapkan
c.       Ubahlah lingkungan kelas untuk meminimalkan kondisi yang dapat memicu munculnya perilaku yang tidak diharapkan
d.      Kembangkan rutinitas harian yang menjamin siswa merasa nyaman dan aman.
e.       Buka peluang agar siswa memiliki pilihan-pilihan untuk memperoleh hasil yang diinginkan
f.       Lakukan adaptasi terhadap kurikulum dan/atau pembelajaran untuk mengoptimalkan kesuksesan akademik siswa

H.      Syarat Kesuksesan Pendekatan Behavioristik :
1.      Titik berat perlakuan pada hubungan sebab-akibat
2.      Fokus pada proses belajar (kondisioning): membentuk dan melemahkan   perilaku
3.      Klien berkeinginan berperan secara aktif, dan mau diprogram
4.      Konselor menganalisa masalah klien untuk menemukan faktor penyebabnya.
5.      Ada hubungan baik antara konselor dan klien
Konselor harus melakukan analisis untuk menemukan hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan klien, misal lingkungan sosialnya, kebiasaan-kebiasaannya. Konselor harus bersikap tanggap, dan sikap tanggap ini akan terjadi bila terjadi hubungan baik. Hubungan baik ini merupakan social reinforcement. Oleh karena itu harus dikembangkan terlebih dulu. Kalau social reinforcment ini sudah dirasakan klien, maka biasanya klien bersikap lebih terbuka, dan klien lalu bisa memilih sendiri hal-hal yang dapat dilakukan yang dirasa menguntungkan, sehingga klien aktif merencanakan program behavior modification untuk dirinya.

I.         Kekuatan dan Kelemahan Pendekatan Behavioristik :
Kekuatan:
1.      Efektif untuk mengarahkan problem perilaku menjadi perilaku yang sesuai dengan harapan.
2.      Tepat untuk siswa yang tidak motivated

       Kelemahan :
-   Membutuhkan waktu lama
-   Kurang efektif untuk siswa yang kemampuan kognitifnya tidak memadai, sehingga memerlukan 
    bantuan pendekatan kognitif
-   Pemberian penguat ekstrinsik menyebabkan siswa kurang tertarik pada pelajaran yang tidak ada 
    penguatnya
-   Guru harus menguasai dan mengetahui jenis penguat dan kapan penguat harus diberikan

A.      Pengertian Tingkah Laku
Dalam sebuah buku yang berjudul “Perilaku Manusia” Drs. Leonard F. Polhaupessy, Psi. menguraikan perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar, seperti orang berjalan, naik sepeda, dan mengendarai motor atau mobil. Untuk aktifitas ini mereka harus berbuat sesuatu, misalnya kaki yang satu harus diletakkan pada kaki yang lain. Jelas, ini sebuah bentuk perilaku. Cerita ini dari satu segi. Jika seseoang duduk diam dengan sebuah buku ditangannya, ia dikatakan sedang berperilaku.  Ia sedang membaca. Sekalipun pengamatan dari luar sangat minimal, sebenarnya perilaku ada dibalik tirai tubuh, didalam tubuh manusia.
Dalam buku lain diuraikan bahwa perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas masing-masing. Sehingga yang dimaksud perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas manusia dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar (Notoatmodjo 2003 hal  114). Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena itu, perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori skiner disebut teori “S - O - R” atau Stimulus – Organisme – Respon. Skiner membedakan adanya dua proses, antara lain ;
1.      Respondent respon atau reflexsive, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebut electing stimulation karena menimbulkan respon-respon yang relative tetap. Misalnya : makanan yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan, cahaya terang menyebabkan mata tertutup, dan sebagainya. Respondent respon ini juga mencakup perilaku emosinal misalnya mendengar berita musibah menjadi sedih atau menangis, lulus ujian meluapkan kegembiraannya ddengan mengadakan pesta, dan sebagainya.
2.      Operant respon atau instrumental respon, yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforce, karena memperkuat respon. Misalnya apabila seorang petugas kesehatan melaksanakan tugasnya dengan baik (respon terhadap uraian tugasnya atau job skripsi) kemudian memperoleh penghargaan dari atsannya (stimulus baru), maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam melaksanakan tugasnya
Berdasarkan dari pendapat para ahli tersebut diatas Perilaku atau tingkah laku menurut kami adalah suatu perbuatan/tindakan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya. Dengan bahasa latinnya tingkah laku bisa disebut juga dengan Behavior. Dan perilaku mempunyai beberapa dimensi, diantaranya adalah :
1.    Fisik (dapat diamati, digambarkan dan dicatat baik frekuensi, durasi dan intensitasnya) .
2.    Ruang  (suatu perilaku mempunyai dampak  kepada lingkungan (fisik maupun sosial) dimana perilaku itu  terjadi).
3.    Waktu (suatu perilaku mempunyai  kaitan dengan masa lampau maupun masa yang akan datang )

B.       Sifat-Sifat Perilaku
Perilaku diatur oleh prinsip dasar perilaku yang menjelaskan bahwa ada hubungan antara perilaku manusia dengan peristiwa lingkungan. Perubahan perilaku dapat diciptakan dengan merubah peristiwa didalam lingkungan yang menyebabkan perilaku tersebut dan dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua sifat,yaitu :
Sifat Covert artinya perilaku yang tertutup atau tersembunyi (hanya dapat diamati oleh orang yang melakukannya). Sifat Overt artinya perilaku yang terbuka atau nampak dan sudah jelas dalam bentuk tindakan atau    praktek (practice) atau dapat diamati dan dicatat.
Diatas telah dituliskan bahwa perilaku merupakan bentuk respon dari stimulus (rangsangan dari luar). Hal ini berarti meskipun bentuk stimulusnya sama namun bentuk respon akan berbeda dari setiap orang. Faktor factor yang membedakan respon terhadap stimulus disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi dua factor yaitu :
 Faktor internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat given atau bawaan misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya. 2.      Faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, fisik, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering menjadi factor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang. (Notoatmodjo, 2007 hal 139)

C.       Proses Terjadinya Perilaku
Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni : Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui setimulus (objek) terlebih dahulu Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. 
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan atau bersifat langgeng (long lasting). Notoatmodjo, 2003 hal 122)

D.      Analisis Tentang Teori Behavioristik
Behavioristik atau Aliran Perilaku (juga disebut Perspektif Belajar) adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa semua yang dilakukan organisme (termasuk tindakan, pikiran, atau perasaandapat dan harus dianggap sebagai perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau konstrak hipotetis seperti pikiran. Behaviorisme beranggapan bahwa semua teori harus memiliki dasar yang bisa diamati tapi tidak ada perbedaan antara proses yang dapat diamati secara publik (seperti tindakan) dengan proses yang diamati secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan).
Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997).
Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.
Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.
Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.
Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pebelajar untuk berpikir dan berimajinasi.
Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:
·       Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara;
·       Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama;
·       Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons.

E.  Cara-cara Mempertahankan dan Mengurangi Perilaku yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan
1.         Cara Mempertahankan perilaku yang diharapkan :
a.      Melalui penguatan intrinsik. Caranya: sering melibatkan siswa pada kegiatan yang menyenangkan dan memberikan kepuasan dalam kaitannya dengan perilaku positif yang akan dipertahankan.
b.      Penguatan intermitten. Seperti disebutkan bahwa perilaku yang diharapkan frekuensinya akan meningkat dengan cepat apabila diberi penguat setiap kali perilaku tersebut muncul. Apabila munculnya perilaku tersebut sudah teratur, maka pemberian penguat dikurangi, yaitu pada kondisi tertentu saja.
2.         Cara mengurangi perilaku yang tidak diharapkan, antara lain :
a.      Extinction. Jangan memberikan penguat apapun terhadap perilaku yang tidak diharapkan.
b.      Cueing. Menggunakan bahasa isyarat seperti kontak mata, menaikkan alis mata, mendekati meja siswa dan berhenti di sana sampai perilaku yang tak diharapkan berhenti.
c.       Punishment. Ada pendapat bahwa hukuman tidak dapat menghentikan perilaku yang tidak diharapkan. Namun demikian kalau guru dapat menggunakan instrumen hukuman secara tepat maka hukuman tetap berguna.
Bentuk hukuman yang efektif :
1.      Mencela secara verbal singkat, saat itu juga, tanpa emosi, suara rendah, langsung mendekati siswa
2.      Memberi denda
3.      memberikan konsekuensi logis
4.      Time out, menempatkan siswa pada situasi yang membosankan
5.      Mengasingkan siswa ditempat tertentu sampai waktu yang ditentukan
Bentuk hukuman tidak efektif :
1.   Hukuman fisik
2.    Hukuman psikologis
3.    PR berlebihan
4.    Skorsing

F.        Langkah-langkah pendekatan behavioral
1.      menentukan masalah (perilaku yang tidak sesuai) - definisikan masalah
2.      menentukan tujuan konseling, untuk apa!
3.      mempertimbangkan alternatif-alternatif pemecahannya
4.      memilih satu altrernatif
5.      menentukan jadwal penguatan
6.      perjanjian dengan klien akan melakukan alternatif itu dengan sistem penguat
7.      pelaksanaan strategi/alternatif yang dipilih tadi
8.      evaluasi
9.      follow-up.
G.      Macam-macam pendekatan behavioral :
1.      Applied Behavior Analysis (ABA) (modifikasi perilaku, terapi perilaku, managemen kontingensi). Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa problem-problem perilaku berasal dari situasi lingkungan masa lalu dan sekarang
Prosedur
 :
a.       Jelaskan perilaku saat ini dan perilaku yang diharapkan secara jelas
b.      Kenali dan gunakan satu atau lebih penguat yang efektif
c.       Buat rencana perlakuan dengan menggunakan penguat untuk membentuk perilaku yang diharapkan
d.      Catat peningkatan frekuensi perilaku yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan
e.       Pantau efektivitas perlakuan dengan melihat perubahan perilaku dari waktu ke waktu, jika perlu lakukan modifikasi perlakuan
f.       Meminta siswa untuk mempraktekkan perilaku diharapkan yang sudah terbentuk ke berbagai situasi nyata
g.      Secara bertahap hentikan perlakuan dengan menggunakan penguatan intermitten.
2.      Functional Analysis & Positive Behavioral Support :
a.       Ajarkan perilaku yang diharapkan
b.      Secara konsisten perkuat perilaku yang diharapkan
c.       Ubahlah lingkungan kelas untuk meminimalkan kondisi yang dapat memicu munculnya perilaku yang tidak diharapkan
d.      Kembangkan rutinitas harian yang menjamin siswa merasa nyaman dan aman.
e.       Buka peluang agar siswa memiliki pilihan-pilihan untuk memperoleh hasil yang diinginkan
f.       Lakukan adaptasi terhadap kurikulum dan/atau pembelajaran untuk mengoptimalkan kesuksesan akademik siswa

H.      Syarat Kesuksesan Pendekatan Behavioristik :
1.      Titik berat perlakuan pada hubungan sebab-akibat
2.      Fokus pada proses belajar (kondisioning): membentuk dan melemahkan   perilaku
3.      Klien berkeinginan berperan secara aktif, dan mau diprogram
4.      Konselor menganalisa masalah klien untuk menemukan faktor penyebabnya.
5.      Ada hubungan baik antara konselor dan klien
Konselor harus melakukan analisis untuk menemukan hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan klien, misal lingkungan sosialnya, kebiasaan-kebiasaannya. Konselor harus bersikap tanggap, dan sikap tanggap ini akan terjadi bila terjadi hubungan baik. Hubungan baik ini merupakan social reinforcement. Oleh karena itu harus dikembangkan terlebih dulu. Kalau social reinforcment ini sudah dirasakan klien, maka biasanya klien bersikap lebih terbuka, dan klien lalu bisa memilih sendiri hal-hal yang dapat dilakukan yang dirasa menguntungkan, sehingga klien aktif merencanakan program behavior modification untuk dirinya.

I.         Kekuatan dan Kelemahan Pendekatan Behavioristik :
Kekuatan:
1.      Efektif untuk mengarahkan problem perilaku menjadi perilaku yang sesuai dengan harapan.
2.      Tepat untuk siswa yang tidak motivated

       Kelemahan :
-   Membutuhkan waktu lama
-   Kurang efektif untuk siswa yang kemampuan kognitifnya tidak memadai,sehingga memerlukan 
    bantuan pendekatan kognitif
-   Pemberian penguat ekstrinsik menyebabkan siswa kurang tertarik pada pelajaran yang tidak ada 
    penguatnya
-   Guru harus menguasai dan mengetahui jenis penguat dan kapan penguat harus diberikan

0 komentar:

Poskan Komentar